Menggunakan cara proses yang ilmiah oleh tenaga ahli farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, dihasilkan ekstrak murni bawang berlian tanpa campuran. Dengan harga yang sangat terjangkau, 1 botol berisi 70 kapsul @ 500mg. Di jual dengan harga Rp. 60.000,- ditambah ongkos kirim ke daerah Anda. Konsultasi dan Pemesanan Silahkan SMS : 081-5678-73353. Ahli Farmasi: Bpk Khamid, S.Farm, MM. Pemasaran: Nur A, SE, M.Si. Dapatkan Bonus menarik pada masa promosi ini.
Selasa, 02 Juli 2013
Minggu, 12 Mei 2013
Bukti Empiris (Ilmiah)
Kesaksian Seperti Yang Dikutip Majalah Terkemuka TRUBUS (KLIK di Sini)
Aliyah
Muhdi menggantungkan kesehatan pada insulin untuk mengontrol gula darah yang
membubung. Menjelang tidur, ia meraih alat suntik mirip pena dan menyuntikkan
di lengan kiri. Dosis sekali suntik 14 unit dengan durasi 6-10 detik. Perempuan
44 tahun itu menyuntikkan insulin ke lengan secara bergantian setiap malam.
Bila malam ini ia menyuntik di lengan kiri, maka esok malam di lengan
kanan begitu seterusnya.
Lokasi
penyuntikan insulin harus bergantian karena menyuntik insulin di daerah yang
sama merangsang perlemakan dan menyebabkan gangguan penyerapan insulin. Jika
tiba giliran menyuntik di lengan kanan, Aliyah tak lagi sanggup melakukannya
sendiri. Sebab, dokter mengamputasi ibu jari kiri dampak diabetes mellitus. Ibu
jari tangan kirinya luka dan bernanah pada pengujung 2011.
Sepekan
kemudian luka itu menghitam. Aliyah bergegas pergi ke dokter karena luka
semakin parah. Hasil pemeriksaan menunjukkan, jaringan pada ibu jari mati dan
dokter menyarankan untuk amputasi. Akibat kehilangan ibu jari itu ia tak mampu
menekan alat suntik insulin. Sang suamilah, Muhammad Helmi, yang rutin
menyuntikkan insulin di bahu kanan.
Pingsan
Insulin
berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel. Sejatinya, sel beta di pankreas
memproduksi hormon insulin. Namun, pada pasien diabetes sel beta mengalami
kelainan sehingga produksi insulin tak cukup mengurai glukosa. Akibatnya, kadar
glukosa dalam darah meningkat. Pada pasien diabetes kadar gula darah usai makan
lebih dari 200 mg/dl.
Derita
ibu dua anak itu berawal pada pertengahan 2009. Ketika itu ia menderita diare.
“Saya bolak-balik ke kamar mandi lebih dari 10 kali sehari,” katanya. Aliyah
mengonsumsi obat warung, tetapi tak mempan menghentikan diare hingga 3 hari.
Kondisi badan perempuan itu sangat lemas akibat kekurangan cairan. Muhammad
Helmi membawanya ke rumahsakit umum terdekat di Benowo, Kota Surabaya, Provinsi
Jawa Timur.
Dalam
perjalanan ke rumahsakit, Aliyah pingsan. Di sana dokter memeriksa Aliyah,
termasuk mengambil sampel darah. Penyebab pingsan itu akhirnya terkuak, kadar
gula darah Aliyah tinggi, mencapai 500 mg/dl; kadar normal, 120 mg/dl. Hari
itu, pada pertengahan 2009, Aliyah dirawat hingga dua pekan hingga kadar gula
darah 200 mg/dl. Selama dalam perawatan, Aliyah mendapatkan obat penurun gula
darah.
Sepulang
dari rumahsakit itulah ia mempunyai aktivitas rutin menyuntikkan insulin sekali
sehari sebelum tidur. Untuk mengontrol kadar gula darah, perempuan kelahiran Mojokerto
16 Maret 1968 itu mengurangi konsumsi makanan dan minuman kaya gula. Dokter di
Rumahsakit Pusat Pertamina Jakarta, dr Asep Saepul Rohmat SpPD, menuturkan
diabetes mellitus terjadi karena gula darah dalam pankreas naik.
Kenaikan
itu akibat gangguan metabolisme produksi insulin dalam pankreas yang ditandai
dengan tingginya kadar gula darah. Tubuh memproduksi insulin sesuai kebutuhan
dan asupan makanan. Penderita diabetes mellitus biasanya mengalami proses
produksi insulin yang berkurang dan fungsi insulin yang menurun.
Komplikasi
Menurut
ahli penyakit dalam di Rumahsakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto,
Dr
dr Aris Wibudi SpPD KEMD, selain akibat adanya kerusakan pada organ pankreas,
lemak pada rongga perut juga memicu diabetes mellitus. “Lemak itu mengeluarkan
zat-zat proinflamasi yang memicu proses peradangan dengan derajat rendah dan
kronis (menahun). Akibat peradangan itu mempengaruhi kerja organ di seluruh
tubuh, seperti pankreas, otot, dan liver. Itu sebabnya diabetes memicu
komplikasi,” katanya.
Berbagai
penyakit mengikuti diabetes, seperti gangguan penglihatan, kerusakan saraf,
disfungsi ereksi, dan komplikasi jantung. Sekitar 75-80% kematian pada
diabetesi karena kelainan jantung dari pembuluh darah. Itu akibat timbulnya
lemak di pembuluh darah sehingga aliran darah terhambat. Jika itu terjadi di
pembuluh darah jantung, memicu serangan jantung.
Dokter
Aris menuturkan pemicu lemak rongga perut karena konsumsi tinggi karbohidrat
dan minyak. Kegemukan pun mengarah di bagian perut. Menurut Ketua
Tim Dokter Kepresidenan itu diabetes menyerang anak-anak hingga orang
dewasa. “Padahal dahulu secara teori anak-anak jarang ada yang terserang
obesitas. Kini, mereka terkena diabetes karena makannya tidak dijaga,” kata
Aris.
Bawang
berlian
Gejala
diabetes di antaranya sering merasa sangat haus, sering buang air kecil, dan
lelah atau letih. Yang disebut terakhir itu karena lemak dibakar sebagai
pengganti glukosa, tubuh kurus serta zat-zat perombak (seton dan asam-asam)
mengasamkan darah. Kondisi itu berbahaya karena menyebabkan koma diabetikum
atau pingsan sebagaimana pengalaman Aliyah. Sebelum dokter mendiagnosis
diabetes, ia memang sering lelah. “Saya kira hanya lelah biasa karena kecapaian
bekerja sehingga tidak pernah mengecek ke dokter,” katanya.
Meski
rutin menyuntikkan insulin dan menjaga pola makan, kondisi Aliyah tak kunjung
membaik. “Badan masih lemas,” katanya. Itulah sebabnya Aliyah dan suami mencari
pengobatan herbal. Ia pernah mencoba berbagai herbal, tapi belum ada yang
cocok. Hingga akhirnya seorang rekan menyarankan untuk konsumsi bawang berlian.
Sejak Juni 2012 Aliyah mengonsumsi masing-masing dua kapsul umbi Eleutherine
americana pada pagi dan sore. Aktivitas menyuntik insulin ia tinggalkan.
Tiga
hari pascakonsumsi, Aliyah merasakan perubahan. “Badan terasa segar. Luka di
tangan akibat tergores pisau saat memasak pun mengering,” katanya. Padahal,
luka itu biasanya baru sembuh setelah sepekan. Pada orang normal, luka tergores
mengering dalam 2-3 hari. Kini, tiga bulan setelah rutin konsumsi bawang
berlian, kondisi Aliyah membaik dan bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya
seperti mencuci dan mengepel lantai.
Sayang,
Aliyah belum memeriksakan diri ke dokter lagi sehingga kadar gula darahnya
belum diketahui. “Saya berpatokan kalau badan istri saya segar dan bisa
mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, berarti keluhan diabetesnya pun
berkurang,” ujar Helmi. Meski kondisinya membaik, Aliyah tetap mengonsumsi
bawang berlian, tapi dosis berkurang hanya 1 kapsul pada pagi dan sore.
Riset
ilmiah Bawang Berlian
Khasiat
bawang berlian mengatasi diabetes mellitus sesuai dengan penelitian Maria DPT
Gunawan Puteri dan rekan dari Divisi Biosains, Universitas Hokkaido, Jepang.
Maria berhasil mengisolasi 3 senyawa aktif dalam Eleutherine americana:
eleutherol, eleutherinoside A, dan eleuthoside B.
Hasil
uji aktivitas daya hambat, menunjukkan senyawa aktif yang berperan paling
tinggi dalam menghambat alfa-glukosidase adalah eleutherinoside A dengan nilai
IC50 0,5 Mm, yaitu 5 mg/50 gram sampel. Artinya hanya dengan dosis 5
mg, separuh sampel terhambat. Alfa-glukosidase di permukaan membran sel usus
berperan memecah pati dan disakarida menjadi glukosa. Jika aktivitas
alfa-glukosidase terhambat, penyerapan glukosa juga terhambat sehingga kadar
gula di darah juga berkurang.
Menurut
herbalis di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Valentina Indrajati, bawang
berlian mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas hipoglikemik atau
penurun kadar glukosa darah. Itulah sebabnya konsumsi rutin bawang berlian
mampu mengontrol kadar gula darah. Itu persis pengalaman Aliyah Muhdi
mengonsumsi ekstrak bawang berlian.
Selain
mujarab mengatasi diabetes mellitus, bawang berlian juga manjur untuk mag.
Lihat saja pengalaman Chusnur Ismiati di Lamongan, Jawa Timur, yang menderita
mag selama 17 tahun sejak 1990. “Pemicunya karena stres. Sebab saya mesti
mengurus adik dan semua kebutuhan sendiri, mulai dari sekolah dan lainnya,”
ujar perempuan 41 tahun itu. Setiap kali mag menyerang, dadanya sesak. “Seperti
ada gas yang mendesak ke atas sehingga dada sesak,” kata Ismiati.
Langganan:
Postingan (Atom)